Cerita Dongeng Bola Kristal

Bola Kristal

Cerita Dongeng Bola Kristal

Dahulu kala, ada seorang wanita penyihir yang memiliki tiga
anak yang saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya sebagai saudara,
tetapi wanita penyihir tua itu tidak mempercayai anaknya sendiri, dan berpikir
bahwa ketiga anaknya ingin mencuri kekuatannya darinya. Penyihir itu lalu
mengubah anak sulungnya menjadi burung elang, yang terpaksa tinggal di
pegunungan berbatu, dan sering terlihat terbang melayang di langit.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Yang kedua,
disihir sehingga berubah menjadi seekor ikan paus yang hidup di laut dalam, dan
terkadang terlihat di permukaan laut menyemburkan sebuah pancuran air yang
besar di udara. Kedua anak ini masing-masing masih bisa berubah bentuk menjadi
manusia selama dua jam setiap hari. Anak yang ketiga, karena takut bahwa ibunya
yang penyihir ini akan mengubahnya menjadi seekor binatang buas, dengan
diam-diam pergi meninggalkan ibunya.

Saat itu, di pusat kerajaan, dia mendengar berita tentang
seorang putri Raja yang disihir dan dipenjarakan di istana matahari, sedang
menanti datangnya pertolongan. Mereka yang mencoba membebaskan sang Putri,
mempertaruhkan nyawa mereka karena tugas untuk menyelamatkan sang Putri,
tidaklah mudah. Sudah puluhan orang yang mencoba tetapi gagal, dan sekarang
tidak ada orang yang berani untuk menyelamatkan sang Putri lagi.

Si Putra Ketiga menguatkan hatinya untuk mencoba
menyelamatkan sang Putri. Dia lalu melakukan perjalanan untuk mencari istana
matahari itu dalam waktu yang cukup lama tanpa bisa menemukannya. Suatu ketika,
dia tiba tanpa sengaja di sebuah hutan yang besar, dan menjadi tersesat. 

Tiba-tiba dia melihat di kejauhan, dua raksasa yang melambaikan tangan mereka
kepadanya, dan ketika dia datang kepada raksasa tersebut, mereka berkata,
 “Kami bertengkar mengenai sebuah topi, siapa di antara
kami yang berhak memilikinya, karena kami berdua sama kuatnya, tak ada satupun
di antara kami yang lebih kuat dibandingkan yang lain. Manusia kecil lebih
pandai dari kami, karena itu, kami menyerahkan keputusan kepada mu.”

“Bagaimana kamu bisa bertengkar hanya karena sebuah
topi tua?” kata si Putra Ketiga.

“Kamu tidak mengerti keajaiban topi itu! Itu adalah
topi yang bisa mengabulkan keinginan kita; barang siapa yang memakainya, dan
berharap untuk pergi ke tempat manapun dia mau, dalam sekejap dia akan tiba di
tempat tersebut.”

“Berikanlah topi itu kepadaku,” kata si Putra
Ketiga, “Saya akan berdiri di sana, ketika saya memanggil kalian, kalian
harus berlomba lari, dan topi ini akan menjadi milik orang yang lebih duluan
tiba di sana.” Dia lalu memakai topi tersebut lalu berjalan pergi, dan saat
berjalan, si Putra Ketiga berpikir tentang sang Putri, melupakan para raksasa
dan berjalan terus. Akhirnya dia mendesah dalam hatinya dan bersedih, “Ah,
jika saja saya bisa tiba di istana matahari,” tiba-tiba si Putra Ketiga
sudah berdiri di sebuah gunung yang tinggi tepat di depan pintu gerbang istana matahari.

Dia lalu masuk dan memeriksa semua kamar, saat sampai pada
kamar terakhir dia menemukan putri Raja. Tapi betapa terkejutnya dia ketika
melihat wajah sang Putri. Wajahnya pucat abu-abu penuh keriput, mata rabun, dan
berambut merah.”

Apakah kamu adalah putri raja, yang kecantikannya terkenal
di seluruh pujian dunia?” tanyanya.

“Ah,” jawabnya,” ini bukan bentuk saya yang
sebenarnya, mata manusia hanya bisa melihat saya dalam keadaan buruk rupa ini,
tetapi kamu mungkin bisa melihat bentuk saya yang sebenarnya, lihat melalui
cermin ini, karena cermin ini tidak akan salah dan akan menampilkan wajah saya
yang sebenarnya.”

Dia lalu memberinya cermin yang di pegangnya, dan saat si
Putra Ketiga melihat bayangan di dalam cermin, dilihatnya wajah yang paling
cantik di seluruh penjuru dunia, dan dia juga melihat butiran air mata yang
bergulir di pipi sang Putri.

Lalu si Putra Ketiga bertanya, “Bagaimana kamu dapat
dibebaskan ? Aku tidak takut akan mara bahaya.

Sang Putri berkata, “Dia yang mendapatkan bola kristal,
dan mengacungkannya kehadapan penyihir, akan menghancurkan kekuatan sihirnya
dengan bola kristal itu, dan saya akan kembali ke bentuk sejati saya.
“Ah,” dia menambahkan, “sudah banyak yang mencoba dan gagal,
kamu begitu muda, saya sangat sedih karena kamu harus menghadapi bahaya yang
begitu besar.”

“Tidak ada yang bisa mencegah saya melakukannya,”
kata si Putra Ketiga, “coba katakan padaku apa saja yang harus
kulakukan.”

“Kamu harus tahu semuanya,” kata sang Putri,”
ketika kamu menuruni gunung di mana istana ini berdiri, kamu akan menemukan
seekor banteng liar di dekat sebuah mata air, dan kamu harus berkelahi dengan
banteng itu, dan jika kamu bisa membunuhnya, seekor burung yang berapi-api akan
muncul yang membawa sebuah telur yang membara, dan sebuah bola kristal terletak
di dalam telur tersebut.

Burung itu tidak akan membiarkan telur tersebut
terlepas kecuali dipaksa untuk melakukannya, dan saat telur itu jatuh di tanah,
semuanya akan menyala dan membakar segala sesuatu yang berada dekat telur
tersebut, dan dengan bola kristal semua masalahmu akan terselesaikan.”

Pemuda itu lalu pergi ke mata air, di mana seekor banteng
liar mendengus dan berteriak marah padanya. Setelah melalui perjuangan yang
panjang, si Putra Ketiga berhasil menusukkan pedangnya ke tubuh hewan itu yang
akhirnya jatuh mati. 

Seketika itu juga, seekor burung api muncul dan hendak
terbang, tapi kakak si Putra Ketiga yang berubah bentuk menjadi elang, menukik
turun, mengejar burung api tersebut sampai ke laut, dan memukul dengan paruhnya
sampai sang Burung Api melepaskan telur yang dipegangnya.

Telur tersebut tidak
jatuh ke laut, tetapi ke sebuah gubuk nelayan yang berdiri di tepi pantai dan
gubuk itu langsung terbakar api. Lalu tiba-tiba muncullah gelombang laut
setinggi rumah, menerjang gubuk tersebut hingga seluruh api menjadi padam.
Ternyata, saudara lain si Putra Ketiga yang menjadi ikan paus, yang telah
mendorong dan menciptakan gelombang laut tersebut. 

Ketika api itu padam, si
Putra Kegita mencari telur itu dan menjadi sangat bahagia saat menemukannya.
Kulit telur tersebut menjadi retak dan pecah akibat suhu panas yang tiba-tiba
berubah menjadi dingin saat tersiram air, sehingga bola kristal di dalamnya
dapat diambil oleh si Putra Ketiga.

Ketika pemuda pergi menghadap ke si Penyihir dan
mengacungkan bola kristal itu di hadapannya, si Penyihir berkata,
“kekuatan sihir saya telah hancur, dan mulai dari saat ini, kamulah yang
menjadi raja di istana matahari. Dengan bola kristal itu juga, kamu telah mengembalikan
bentuk saudara-saudara-mu ke bentuk manusia seperti semula.”

Si Putra Ketiga pun bergegas menemui sang Putri, dan ketika
dia memasuki ruangan, dia mendapati sang Putri berdiri di sana dengan segala
kecantikan dan keindahannya, dan tidak lama, merekapun menikah dan hidup
berbahagia selamanya.

Pesan Moral

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng bola
kristal ini adalah Bertengkar itu perbuatan yang tidak terpuji. Berjuang dengan
sunggu untuk mendapatkan sesuatu.