Darimana Suara Lonceng itu?

Lonceng di Malam Hari

Darimana Suara Lonceng itu?

Menjelang 5 tahun kepergian Almarhumah Nenek ku, aku jadi teringat kejadian beberapa hari setelah Nenek meninggal. 

Kejadian ini berdasarkan kisah nyata, jadi cerita ini berawal, ketika aku menginap dirumah Nenek yang aku ceritakan di atas. 

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Semasa hidupnya, Nenek tinggal bersama Kakek, Anak perempuannya yang paling bungsu, beserta menantu dan cucu nya. Jadi malam itu, malam terakhir acara tahlilan dirumah Nenek, lalu ku putuskan utuk  menginap. 

Keluarga dan para kerabat yang datang malam itu perlahan sudah kembali ke rumah masing-masing, tinggal beberapa tetangga dekat yang masih terdengar mengobrol di halaman depan rumah. 

Sementara itu, aku, ibu dan bibi sibuk membereskan sisa makanan beserta bekas sampah yang masih berserakan. 

Setelah dirasa semua nya selesai, Ibu dan Bapak berpamitan dengan Kakek dan Bibi. 

Jadi malam itu, yang tersisa dirumah hanya ada aku, Bibi, Paman, dan Keponakan ku. Karena Kakek sedang ke mushola untuk sholat isya. 

Malam semakin larut, tiba-tiba saja keponakan ku mendadak demam tinggi, badannya panas, sampai bicara pun ia sudah tidak kuat. 

Karena cemas, Bibi dan Paman ku membawa nya ke bidan terdekat. 

Dan itu berarti, tinggal aku sendiri dirumah itu hahahaha 

FYI, jadi rumah Nenek ku itu semacam rumah bangunan adat Jawa kuno yang terdapat banyak tiang penyangga di setiap sudutnya, dan lumayan besar untuk ditinggali keluarga yang hanya terdiri dari 5 orang tersebut. 

Kebetulan, di depan teras rumah ada sebuah lonceng yang menggantung,lengkap dengan alat pemukulnya, tapi sampai saat ini aku masih belum tau  fungsi dari lonceng tersebut untuk apa. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi aku yakin jika lonceng itu di bunyikan, akan menghasilkan suara yang lumayan keras. 

Sementara itu, aku yang sendirian dirumah, sama sekali tidak berani untuk ada di dalam rumah, aku duduk di teras rumah dengan harapan Kakek akan cepat pulang. 

Malam itu entah mengapa rasanya badan ku menggigil kedinginan, padahal tidak sedang hujan, bahkan tidak ada angin sama sekali. 15 menit aku menunggu mereka datang, tapi belum ada tanda-tanda mereka akan kembali. 

Ku pandangi sekeliling, sepi, sunyi. Hingga akhirnya moment yang tidak akan pernah aku lupakan terjadi. 

Yaaa! Lonceng yang tadi aku ceritakan perlahan berbunyi. 

Suaranya sangat halus, nyaris tak terdengar, tapi telingaku sangat peka terhadap suara tersebut. 

Aku masih berfikir positif, ah mungkin ada angin yang membuat lonceng itu berbunyi  

Padahal aku paham betul, pada saat itu tidak ada angin sama sekali. 

Dan beberapa saat kemudian, lonceng itu kembali berbunyi, kali ini suaranya lumayan keras, dan bunyi nya seperti lonceng yang sedang di pukul dari sebelah kanan, berpindah lagi kesebalah kiri. 

Itu berlangsung selama beberapa menit. 

Aku yang mendengarnya hanya bisa mematung, sekujur tubuh rasanya beku, tidak bisa ku gerakkan, untuk sekedar berteriak pun rasanya aku ga sanggup. 

Kali ini, aku tidak lagi bisa berfikir postif, karna bukan hanya suara lonceng yang terdengar, tapi juga suara kaca jendela yang seperti di ketuk dengan kuku. Intonasi suaranya berurutan, dari satu ketukan, dua ketukan, tiga, lima, sampai yang paling parah ketukan itu menjadi sangat cepat kemudian hilang. 

Tak lama dari itu, terlihat dari kejauhan bahwa Kakek sudah pulang dari mushola. 

Melihat cucunya yang hanya terdiam membisu seperti mayat hidup, Kakek seperti tau apa yang sedang aku alami, dan memaksaku untuk menceritakan semuanya, 

Aku di beri air putih yang sudah di Do’akan, dan menyuruhku untuk meminumnya. 

Setelah keadaan mulai kondusif, aku menceritakan semua yang aku alami, dan Kakek hanya menjawab “ndak papa nduk, anggap saja itu Mbah putri, yang lagi pengen bercanda sama kamu”  Di akhiri dengan senyuman yang manis.

Mungkin ada yang berfikir, bisa saja yang membunyikan lonceng adalah orang yang lagi ngisengin kamu. Tapi yang kalian harus tau, lonceng tersebut berada tepat didepan mata saya, dan hanya berjarak satu meter, jadi, apakah saya tidak bisa melihat, jika memang itu hanya orang iseng ?