Info terupdate
SISI LAIN REALITA
Indeks

Cerita Dongeng Katak dan Permata

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Cerita Dongeng Katak dan Permata


Cerita Dongeng Katak dan Permata

Pada suatu masa, ada seorang wanita yang telah menjanda dan
memiliki dua orang putri. Putri tertua memiliki wajah dan perangai yang sangat
mirip dengan ibunya sehingga orang sering berkata bahwa siapapun yang melihat
putri tertua tersebut, sama dengan melihat ibunya. Mereka berdua mempunyai
sifat jelek yang sama, sangat sombong dan tidak pernah menghargai orang lain.

Putri yang termuda, merupakan gambaran dari ayahnya yang
telah meninggal, sama-sama memiliki sifat baik hati, senang membantu orang dan
sangat sopan. Banyak yang menganggap bahwa putri termuda adalah wanita yang
tercantik yang pernah mereka lihat.

Karena kecenderungan orang untuk menyukai hal yang sama
dengan diri mereka, ibunya menjadi sangat sayang kepada putri yang tertua,
sedangkan putri yang termuda diperlakukan dengan buruk, putri termuda sering
disuruhnya bekerja tanpa henti dan tidak boleh bersama mereka makan di meja
makan. Dia hanya diperbolehkan makan di ruang dapur sendiri saja.

Putri yang termuda sering dipaksa dua kali sehari untuk
mengambil air  dari sumur yang letaknya
sangat jauh dari rumah mereka. Suatu hari ketika putri yang termuda berada di
mata air ini, datanglah seorang wanita tua yang kelihatan sangat miskin, yang
memintanya untuk mengambilkan dirinya air minum.

“Oh! ya, dengan senang hati,” kata gadis cantik
ini yang dengan segera mengambil kendinya, mengambil air dari tempat yang
paling jernih di mata air tersebut, dan memberikan kepada wanita itu, sambil
membantu memegang kendinya agar wanita tua itu dapat minum dengan mudah.

Setelah minum, wanita tersebut berkata kepada putri termuda. 

“Kamu sangat cantik, sangat baik budi dan sangat sopan,
saya tidak bisa tidak memberikan kamu hadiah.” Ternyata wanita tua
tersebut adalah seorang peri yang menyamar menjadi wanita tua yang miskin untuk
melihat seberapa jauh kebaikan hati dan kesopanan putri termuda. “Saya
akan memberikan kamu sebuah hadiah,” lanjut sang Peri, “Mulai saat
ini, dari setiap kata yang kamu ucapkan, dari mulutmu akan keluar sebuah bunga
atau sebuah batu berharga.”

Ketika putri termuda yang cantik ini pulang kerumah, dimana
saat itu ibunya memarahinya karena menganggap putri termuda tersebut terlalu
lama kembali dari mengambil air.

“Saya minta maaf, mama,” kata putri termuda,
“karena saya terlambat pulang.”

Saat mengucapkan kata itu, dari mulutnya keluarlah dua buah
bunga, dua buah mutiara dan dua buah permata.

“Apa yang saya lihat itu?” kata ibunya dengan
sangat terkejut, “Saya melihat mutiara dan permata keluar dari mulutmu!
Bagaimana hal ini bisa terjadi, anakku?”

Untuk pertama kalinya ibunya memanggilnya dengan sebutan
‘anakku’.

Putri termuda kemudian menceritakan semua kejadian yang
dialami secara terus terang, dan dari mulutnya juga berturut-turut keluarlah
permata yang tidak terhitung jumlahnya.

“Sungguh mengagumkan,” kata ibunya, “Saya
harus mengirim anakku yang satu lagi kesana.” Dia lalu memanggil putri
tertua dan berkata “Kemarilah, lihat apa yang keluar dari mulut adikmu
ketika dia berbicara. Apakah kamu tidak ingin memiliki hal yang dimiliki
adikmu? Kamu harus segera berangkat ke mata air tersebut dan apabila kamu
menemui wanita tua yang meminta kamu untuk mengambilkan air minum, ambilkanlah
untuknya dengan cara yang sangat sopan.”

“Adik termuda pasti sangat senang melihat saya
mengambil air dari mata air yang jauh,” katanya dengan cemberut.

“Kamu harus pergi, sekarang juga!” kata ibunya
lagi.

Akhirnya putri tertua berangkat juga sambil mengomel di
perjalanan,  sambil membawa kendi terbaik
yang terbuat dari perak.

Tidak lama kemudian dia tiba di mata air tersebut, kemudian
dia melihat seorang wanita yang berpakaian sangat mewah keluar dari dalam
hutan, mendekatinya, dan memintanya untuk mengambilkan air minum. Wanita ini
sebenarnya adalah peri yang bertemu dengan adiknya, tetapi kali ini peri
tersebut menyamar menjadi seorang putri bangsawan.

“Apakah saya datang kesini,” kata putri tertua
dengan sangat sombong, “hanya untuk memberikan kamu air? dan kamu pikir
saya membawa kendi perak ini untuk kamu? Kalau kamu memang mau minum, kamu
boleh meminumnya jika kamu merasa pantas.”

“Kamu keterlaluan dan berlaku tidak sopan,” jawab
sang Peri, “Baiklah, mulai sekarang, karena kamu sangat tidak sopan dan
sombong, saya akan memberikan kamu hadiah, dari setiap kata yang kamu ucapkan,
dari mulutmu akan keluar seekor ular atau seekor katak.”

Saat dia pulang, ibunya yang melihat kedatangannya dengan
gembira menyambutnya dan bertanya:

“Bagaimana, anakku?”

“Bagaimana apanya, ma?” putri tertua menjawab
dengan  cara yang tidak sopan, dan dari
mulutnya keluarlah dua ekor ular berbisa dan dua ekor katak.

“Oh! ampun,” kata ibunya; “apa yang saya
lihat ini? Oh! pastilah adik mu yang sengaja telah merencanakan kejadian
ini,  tapi dia akan mendapatkan
hukumannya”; dan dengan segera dia berlari mendekati putri termudanya dan
memukulnya. Putri termuda kemudian lari menjauh darinya dan bersembunyi di
dalam hutan yang tidak jauh dari rumahnya agar tidak mendapat pukulan lagi.

Seorang anak Raja, yang baru kembali dari berburu di hutan,
secara kebetulan bertemu dengan putri termuda yang sedang menangis. Anak Raja
tersebut kagum akan kecantikan putri termuda kemudian bertanya mengapa putri
tersebut sendirian di dalam hutan dan menangis terisak-isak.

“Tuanku, ibu saya telah mengusir saya dari rumah.”

Saat itu, anak Raja melihat lima atau enam mutiara dan
permata keluar dari mulut putri termuda, dia menjadi penasaran dan meminta
putri termuda menceritakan mengapa dari mulutnya keluar permata saat berkata
sesuatu. Putri termuda kemudian menceritakan semua kisahnya, dan anak Raja
tersebut menjadi bertambah kagum akan kebaikan hati dan kesopanan tutur kata
putri termuda. Anak Raja menjadi jatuh hati pada putri termuda dan beranggapan
bahwa putri termuda sangat pantas menjadi istrinya. Anak Raja akhirnya mengajukan
lamaran dan menikahi putri termuda.

Sedangkan putri tertua, membuat dirinya sendiri begitu
dibenci oleh ibunya sendiri karena kelakuannya yang sangat buruk dan di usir
keluar dari rumah. Putri tertua akhirnya menjadi terlantar karena tidak
memiliki rumah lagi, dia lalu masuk ke dalam hutan dan mulai saat itu, orang
tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng
katak dan permata ini adalah Jangan bertengkar dan berselisih dengan saudara
kita, bersikaplah yang sopan dengan siapapun, keluarga, saudara, teman dan
lainnya.


Eksplorasi konten lain dari PRAKATA.ID

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.