Cerita Dongeng Jorinde dan Joringel

Jorinde dan Joringel

Cerita Dongeng Jorinde dan Joringel

Dahulu kala, ada sebuah kastil tua yang terletak di tengah
hutan besar yang lebat, di mana di dalam kastil itu seorang wanita penyihir tua
berdiam seorang diri. Pada siang hari, dia mengubah dirinya menjadi seekor
kucing atau burung hantu, dan di malam hari dia berubah bentuk kembali menjadi
manusia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Dia bisa memancing hewan liar dan burung untuk datang
kepadanya, lalu kemudian ditangkapkapnya untuk kemudian dimangsanya. Jika ada
orang yang mendekat dalam jarak seratus langkah dari kastilnya, orang tersebut
tidak bisa bergerak lagi hingga si Penyihir itulah yang melepaskannya untuk
dibawa ke kastilnya. Setiap kali ada gadis yang masuk ke dalam lingkaran
kastilnya, dia akan mengubahnya menjadi seekor burung dan mengurungnya dalam
sangkar, lalu kurungan itu akan disimpan di dalam sebuah ruangan bersama
sekitar tujuh ribu sangkar burung langka lainnya.

Suatu saat, ada seorang gadis yang bernama Jorinda, yang
merupakan gadis tercantik yang pernah ada di dusun sekitar tempat tinggal si
Penyihir itu. Gadis itu paling cantik bila dibandingkan gadis-gadis cantik
lainnya di sekitar kastil penyihir tua tersebut. Sebelumnya, dia dan seorang
pemuda tampan bernama Joringel telah berjanji untuk menikah. Mereka masih dalam
masa pertunangan dan mereka senantiasa berjalan bersama-sama.

Suatu hari mereka pergi berjalan-jalan di hutan. Sesaat
Jorinda teringat sesuatu dan berkata kepada Joringel, “Hati-hati, jangan
berjalan terlalu dekat dengan kastil di hutan.”

Sore itu adalah hari yang indah, matahari bersinar terang di
antara dahan-dahan pepohonan yang terlihat berwarna hijau gelap, tetapi saat
itu merpati di hutan menyanyikan lagu yang sedih.

Jorinda terharu dan menangis mendengar nyanyian tersebut,
dan duduk di bawah sinar matahari sambil bersedih. Joringel ikut menjadi sedih.
Kemudian saat mereka tersadar dan memandang sekeliling mereka, mereka menjadi
bingung, karena mereka tidak tahu ke mana arah untuk pulang. Sementara matahari
perlahan-lahan mulai terbenam.

Joringel melihat sekeliling, dan melalui semak-semak
dilihatnya dinding tua kastil yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.
Dia menjadi terkejut dan ketakutan. Saat itu Jorinda menyanyi:

“Burung kecilku, dengan leher berwarna merah,

Menyanyi sedih, sedih, sedih,

Dia menyanyi seolah-olah bersedih bersama Merpati,

Menyanyi lagu sedih….”

Saat Joringel melihat ke arah Jorinda, Jorinda telah berubah
menjadi seekor burung bulbul dan bernyanyi, “Jug, jug, jug.”

Seekor burung hantu dengan mata yang menyala, terbang
mengelilingi burung bulbul tersebut dan berteriak tiga kali, “To-whoo,
to-whoo, to-whoo!”

Joringel tidak dapat bergerak, dia berdiri di sana seperti
sebuah batu, juga tidak bisa menangis ataupun berbicara, ataupun menggerakkan
kaki dan tangannya. sementara itu, matahari sudah terbenam. Burung hantu itu
sekarang terbang menuju ke semak-semak, dan setelah itu keluar dari semak-semak
dalam bentuk seorang wanita tua yang bongkok, berkulit kuning dan bertubuh
kurus, dengan mata berwarna merah dan besar serta berhidung bengkok, yang
ujungnya hampir mencapai dagunya.

Dia bergumam kepada dirinya sendiri, lalu menangkap burung
bulbul, dan membawanya pergi dalam genggaman tangannya. Joringel hanya terpaku
dan diam di tempatnya, tidak bisa berbicara atau bergerak dari tempat tersebut.

Akan tetapi, akhirnya wanita tua itu datang kembali, dan
berkata, “Saat bulan menyinari sangkar burung, biarkanlah dia bebas.”

Tidak lama kemudian, Joringel pun terbebas. Dia jatuh
berlutut dan memohon kepada wanita tua itu untuk melepaskan Jorinda, tetapi
wanita tua itu mengatakan bahwa Joringel tidak akan pernah bertemu lagi dengan
Jorinda, dan dia pun berlalu serta pergi meninggalkannya.

Joringel memanggil, menangis, dan meratap, tetapi semua
sia-sia, “Ah, apa yang harus kulakukan?”

Joringel kemudian meninggalkan tempat itu, dan akhirnya tiba
di sebuah desa. Di sanalah dia bekerja sebagai gembala domba dalam waktu yang
cukup lama. Dia masih sering berjalan dan berkunjung ke sekitar kastil, tetapi
tetap menjaga jarak dengan kastil.

Akhirnya suatu malam dia bermimpi bahwa dia menemukan bunga
berwarna merah darah, di tengah-tengahnya terdapat sebuah mutiara yang besar
dan indah. Dia bermimpi mengambil bunga tersebut dan membawanya ke kastil, dan
dalam mimpinya segala sesuatu yang disentuh dengan bunganya, akan terbebas dari
sihir. Dia juga bermimpi bahwa dengan cara itulah dia bisa membebaskan Jorinda.

Di pagi hari, ketika dia terbangun, dia mulai mencari bunga
seperti dalam mimpinya tersebut di atas bukit dan di bawah lembah. Dia terus
mencari, hingga pada hari kesembilan, pada pagi harinya, dia menemukan bunga
yang berwarna merah darah. Di tengah-tengah bunga tersebut, terdapat sebuah
tetesan embun yang besar, sama seperti bunga dalam mimpinya.

Dia lalu melakukan perjalanan siang dan malam dengan membawa
bunga itu menuju ke kastil. Ketika dia berada dalam jarak seratus langkah, dia
tidak menjadi patung tetapi dapat terus berjalan sampai ke pintu. Joringel
menjadi sangat senang, dia menyentuh pintu dengan bunganya, yang dengan segera
terbuka setelah tersentuh bunga. Dia berjalan melalui halaman, mengikuti suara
kicauan burung-burung. Akhirnya dia menemukan ruang di mana kicauan tersebut
berasal, dan di ruang tersebut dilihatnya penyihir sedang memberi makan
burung-burung di tujuh ribu sangkar.

Namun si Penyihir itu amat marah ketika melihat Joringel
yang datang. Dia murka, marah dan marah serta menyemburkan ludah beracun
terhadap Joringel. Tetapi racun tersebut tidak bisa mengenainya dan terhenti
sekitar dua langkah dari tubuhnya. Joringel tidak mempedulikan penyihir itu,
dan memeriksa sangkar yang berisikan burung-burung untuk membebaskan Jorinda.
Namun Joringel bingung, ada ratusan sangkar yang berisi burung bulbul,
bagaimana dia bisa menemukan Jorinda?

Sesaat kemudian, dia melihat wanita tua itu diam-diam
mengambil sangkar yang berisikan seekor burung bulbul di dalamnya, dan pergi
menuju sebuah pintu. Dengan cepat Joringel melompat ke arahnya, menyentuhkan
bunga yang dibawanya ke sangkar yang dibawa oleh si Penyihir itu. Bunga itu pun
disentuhkan terhadap tubuh wanita tua yang jahat itu.

Saat itulah sihir wanita tua seketika sirna. Sekarang, dia
tidak bisa lagi menyihir. Jorinda yang telah berwujud seorang gadis cantik
lagi, berdiri tidak jauh dari Joringel.

Setelah itu, Joringel pun menyentuhkan bunganya ke semua
burung yang ada dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian, semua burung telah
berwujud menjadi manusia. Setelah kejadian itu, Joringel pun menggandeng
Jorinda untuk pulang dan kembali ke dusun mereka. Di sana, mereka akhirnya
hidup bahagia bersama.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng
Jorinde dan Joringel ini adalah

Berjuanglah untuk mendapatkan sesuatu hal yang berharga
dalam hidup.