Selain El Nino, La Nina Juga Membawa Dampak Buruk bagi RI

Fenomena La Nina membawa curah hujan tinggi. Sedangkan El Nino menyebabkan kemarau panjang di Indonesia.

PRAKATA.ID, Purwakarta – El Nino dan La Nina dua-duanya adalah pola iklim di Samudera Pasifik yang dapat mempengaruhi cuaca di seluruh dunia. Meski sama-sama istilah iklim, El Nino dan La Nina memiliki sifat yang berkebalikan.

El Nino

Mengutip laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia. Singkatnya, El Nino memicu kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Menurut laman National Ocean Service AS, El Niño dalam bahasa Spanyol artinya anak laki-laki. Nelayan Amerika Selatan pertama kali menyadari periode air hangat yang luar biasa di Samudra Pasifik pada tahun 1600an. Nama lengkap yang mereka gunakan adalah El Niño de Navidad yang berarti Bocah Laki-Laki Natal, karena El Niño biasanya mencapai puncaknya sekitar bulan Desember.

La Nina

La Nina adalah fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Ketika La Nina terjadi, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

La Niña dalam bahasa Spanyol artinya Gadis Kecil. La Niña juga kadang-kadang disebut El Viejo, anti-El Niño, atau sekadar “peristiwa dingin”.

Selama La Niña, perairan di lepas pantai Pasifik menjadi lebih dingin dan mengandung lebih banyak nutrisi dari biasanya. Lingkungan ini mendukung lebih banyak kehidupan laut dan menarik lebih banyak spesies perairan dingin, seperti cumi-cumi dan salmon, ke tempat-tempat seperti pantai California.

Dampak Buat Indonesia

Dampak El Nino dan La Nina di RI : Produksi Pangan Susut, Harga Meroket!

Sejak pertengahan 2023 lalu Indonesia mengalami fenomena iklim El Nino yang menyebabkan musim kemarau panjang dan lebih ekstrim panas dan kering dibandingkan biasanya.

Akibatnya, produksi pertanian, termasuk gabah di dalam negeri mengalami penurunan. Dampak yang terasa pada sepanjang 2023 adalah penyusutan produksi sejumlah komoditas pangan RI.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi dan luas panen terus menyusut yang menunjukkan produktivitas turun.

Produksi yang menyusut membuat pemenuhan dalam negeri terganggu, imbasnya kita perlu mengimpor beras dalam jumlah besar. BPS mencatat beras menjadi salah satu komoditas impor terbesar sepanjang tahun 2023 mencapai 3,06 juta ton.

Dampak El Nino ini masih terasa pada produksi bulan Januari-Februari 2024 dan diprediksi bakal defisit 2,8 juta ton setara beras.

Harga beras pun meroket belakangan ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas juga mendapati harga beras premium lokal masih mahal di pasar tradisional, yakni tembus Rp 19.000 per kg.

Temuan tersebut didapatinya saat Ia melakukan peninjauan harga dan pasokan di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur hari ini, Jumat (15/3/2024).

Beralih ke saat ini, dalam waktu dekat, fenomena suhu lautan pasifik El Nino kemungkinan akan digantikan dengan fase La Nina. Tanda-tanda La Nina sudah mulai terlihat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait hal ini. Menurut BMKG, Minggu (17/3/2024), El Nino kemungkinan akan menjadi netral pada periode bulan Mei atau Juni.

“El Nino diprediksi akan segera menuju netral pada periode Mei, Juni, Juli 2024,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers virtual pada Jumat (15/3/2024).

Dari pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan El Nino moderat masih berlangsung. Indeks menunjukkan angka 1,59.

Ketia fenomena La Nina terjadi, bagi Indonesia berarti akan terjadi risiko banjir yang lebih tinggi, suhu udara yang lebih rendah di siang hari, dan lebih banyak badai tropis.

BMKG menambahkan, La Nina akan memicu kondisi lebih basah dibandingkan kondisi normal, sehingga meningkatkan risiko hujan ekstrem yang merugikan lahan pertanian serta memicu potensi berkembangnya hama dan penyakit tanaman.


Berita ini telah tayang di CNBC Indonesia dengan judul “Sama-Sama Bikin Sengsara, Ini Bedanya El Nino dan La Nina“.