Info terupdate
SISI LAIN REALITA
Indeks

Kisah Legenda Alue Naga

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Mari kita simak Cerita legenda nusantara yang berasal dari
provinsi Riau, asal mula alue naga. Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar
tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat, lalu beliau mengunjungi tempat
tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut
keluhan rakyatnya.

“Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit
Lamyong,” keluh seorang peternak. “Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi
sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat
dibawahnya,” tambah yang lainnya. “Sejak kapan kejadian itu?” Tanya Sultan
Meurah. “Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat,” jelas yang
lain.

Sesampai di istana Sultan memanggil sahabatnya Renggali,
adik dari Raja Linge Mude. “Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu,”
kata Sultan Meurah. “Mengapa ada bukit memanjang disana padahal disekitarnya
rawa-rawa yang selalu berair,” sambung Sultan Meurah. “Menurut cerita orang
tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam,” jelas Renggali, “abang
hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja,
seolah-olah bukit itu mamanggilnya,” tambahnya. “Cobalah engkau cari tahu ada
apa sebenarnya dengan bukit itu!” Perintah Sultan.

Maka berangkatlah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri
setiap jengkal dan sisi bukit tersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai
ke kesisi selatan, “bukit yang aneh, “bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia
mendaki bagian yg lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di
bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompat kebawah
sambil berguling.

“Maafkan hamba putra Raja Linge!” Tiba-tiba bukit yang tadi
di pinjaknya bersuara. Renggali kaget dan segera bersiap-siap, “siapa engkau?”
Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya,
“hamba naga sahabat ayahmu,” terdengar jawaban dari bukit itu dikuti suara
gemuruh.

Baca Juga:

Legenda I Laurang Sang Manusia Udang – Sulawesi Selatan

Kisah Lutung Kasarung

Kisah Jaka Tarub Dan Tujuh Bidadari

Kerajaan Ternate – Sejarah Lengkap, Awal Mula, Raja,…

Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit
itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan
pepohonan. “Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku? Tanya Renggali. Air yang
mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali. “Panggilah Sultan Alam,
hamba akan buat pengakuan!” Isak bukit tersebut. Maka buru-buru Renggali pergi
dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggali
menceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan.

“Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?” Tanya
Sultan Meurah penasaran. “Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum
tahu Sultan sudah mangkat?” tambah Sultan Meurah. Maka berangkatlah mereka
berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukit itu bergemuruh. “Mengapa
Sultan Alam tidak datang?” Suara dari bukit. “Beliau sudah lama mangkat, sudah
lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkau
telah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?” Tanya Sultan Meurah. Bukit
itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit
itu.

“Hukumlah hamba Sultan Meurah,” pinta bukit itu. “Hamba
sudah berkhianat, hamba pantas dihukum,” lanjutnya. “Hamba sudah mencuri dan
menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang
diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Raja Linge,” jelasnya. Tubuh
Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, “bagaimana bisa kamu
membunuh sahabatmu sendiri?” Tanya Renggali.

“Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar
hadiah berupa pedang kepada sahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga
tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge dan Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi
Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempat Tuan Tapa untuk
mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau
putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar dan gemuk.

Karena ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan
ikut mengantarkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk
mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap
daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut dan
hamba menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya lalu hamba
memfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge membunuhnya.

Dalam perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat
di tepi sungai Peusangan dan terbit lagi selera hamba untuk melahap kerbau yang
lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi, Raja Linge marah besar lalu hamba
memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya maka dibunuhlah buaya itu. Saat
akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi
sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya tetapi kali ini Raja
Linge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi, Raja Linge memiliki
kesempatan membunuh hamba tetapi dia tidak melakukannya sehingga hamba lah yang
membunuhnya,” cerita naga sambil berurai air mata.

“Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!” terdengar isak tangis
sang naga. Mengapa engkau terjebak disini?” Tanya Sultan Meurah. “Raja Linge
menusukkan pedangnya ke bagian tubuh hamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba
kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulan Raja Linge ke tanah membuat
tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya,” jelas sang naga.

“Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur
bersama sahabat hamba,” pinta Naga Hijau. “Berilah dia hukuman Renggali, engkau
dan abangmu lebih berhak menghukumnya,” kata Sultan Meurah. “Ayah hamba tidak
ingin membunuhnya, apalagi hamba, hamba akan membebaskannya,” jawab Renggali.
“Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan perbuatan hamba,” pinta Naga Hijau.
“Kalau begitu bebaskanlah dia!” Perintah Sultan Meurah.

Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi tubuh naga untuk
mencari pedang milik Raja Linge, setelah menemukannya, Renggali menarik dengan
kuat dan terlepaslah pedang tersebut namun Naga Hijau tetap tidak mau bergerak.
“Hukumlah hamba Sultan Meurah!” Pinta Naga Hijau. “Sudah cukup hukuman yang
kamu terima dari Raja Linge, putranya sudah membebaskanmu, pergilah ke negerimu!”
Perintah Sultan Meurah.

Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan
perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat
pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja
itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya di
penuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga
yang telah mengkhianati sahabatnya.


Eksplorasi konten lain dari PRAKATA.ID

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.