Hai, aku Arsya. Sudah tiga tahun aku tidak mengunjungi kediaman adikku. Mumpung libur akhir tahun aku memutuskan untuk pergi kerumah adikku.
Setiap tahun, satu persatu anggota keluargaku pergi keluar kota. Mungkin itu urusan bisnis mereka, tiga tahun yang lalu paman, dua tahun yang lalu bibi, satu tahun yang lalu kakakku. Mereka tidak pernah mengirim kabar. Ntahlah.
Rasanya senang sekali aku akan pergi berlibur ke rumah adikku, Kapan lagi kami bisa bertemu, kami dipisahkan oleh karir yang berbeda. Ya, dia tinggal di jakarta sementara aku di bandung.
Kasihan sekali aku melihat Adikku dengan matanya yang tertutup satu. Dia mengalami lumpuh satu mata permanen, dia selalu diam dan tidak percaya diri. Tapi dia bisa menjadi seorang sekretaris aku cukup bangga padanya. Aku harap setelah tiga tahun ini senyum terpancar di wajahnya.
-Tingtong!
Rumah besar ini kelihatan sepi, tidak ada yang membuka pintu utama rumah ini.
-Ceklek..
Kubuka pintu dan masuk kedalam, kenapa pintu ini tidak dikunci? Ntahlah. Keadaan rumah tak terurus hanya keheningan yang ada disini. Aku memutuskan untuk pergi kekamar adikku. Arghh dimana dia? Sudah beberapa kali kupanggil tidak ada sahutan didalam kamar ini. Setiap sudut sudah ku telusuri, namun aku tidak menemukan Adikku.
Dari pagi, sampai sore aku membersihkan sendiri rumah besar ini. Setelah semuanya selesai, aku memutuskan untuk tidur dikamar adikku saja, aku menemukan sebuah surat di atas laci. Surat ini berisikan tentang adikku yang meminta maaf padaku. Ada apa? Perasaanku mulai tidak enak. Dimana adikku sebenarnya?
Karena bosan pagi ini aku mengelilingi kembali seluruh ruangan rumah ini. Aku menemukan sebuah ruangan yang terkunci, Sial. Kenapa kemarin aku tidak melihat pintu ini? Aku memutuskan untuk melihat ke dalam saja melalui lubang kunci pintunya.
-Deg!
Aku melihat bayangan hitam melesat cepat!
Aku menjauhi pintu, aku tidak suka melihat hal-hal seperti itu.
Malam kedua ini Karena penasaran aku melihat lagi ruangan gelap itu melalui lubang kunci. Aku tidak melihat apa apa, aku hanya mendengar seperti suara sayatan.
Satu dua tiga empat lima hari sudah aku lalui tinggal dirumah ini. Aku bingung ingin sekali aku melapor polisi kemana adikku. Tapi hatiku mengatakan tidak, karena aku menemukan surat baru diatas laci. Siapa yang menyimpanya aku tidak peduli. Surat itu berisikan “coming soon” (segera datang) dibawahnya tertulis “Arsyi adikmu”
Pukul 02:00 dini hari karena haus aku terbangun untuk mengambil air didapur. Aku mendengar suara aneh diruangan yang terkunci itu. Seperti mengatakan “tolong” dengan pelan, sangat pelan.
Aku melihat kembali lubang kunci itu dan
Deg!
Aku melihat wajah yang sangat menyeramkan. Menjijikan, berlumuran darah dan bau busuk yang sangat menyengat. Wajah itu tidak memiliki mata. Aku menjauhi pintu itu.
Malam ketujuh, dengan penasaran kulihat kembali ruangan gelap itu melalui lubang kunci. Aneh, tidak ada hal janggal seperti malam-malam sebelumnya.
Sret!
Tidak, sesuatu seperti jarum menusuk mataku! Dengan sakit aku melepaskan ini! Karena marah aku mendobrak pintu itu ada apa? kenapa? apa yang terjadi dirumah ini!!!
Yang kulihat ini sangatlah tidak wajar. Aku melihat paman bibi dan kakakku hanya terbaring buruk dengan keadaan wajah yang tidak memiliki bola mata lagi. Mereka mungkin sudah tidak bernyawa!
Seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“Arsyi kan udah bilang, Arsyi cooming soon! Eh malah datang sendiri. Oke, Arsyi suka mata cantik itu!!”
-Sret!
“Arsyiii!!” Teriakku.
TAMAT.
Eksplorasi konten lain dari PRAKATA.ID
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
