
Di Sulawesi Selatan terdapat Kerajaan Luwu yang dipimpin
Raja La Busatana bersama permaisurinya yang bijaksana. Mereka memiliki anak
bernama Putri Tandampalik yang juga bijaksana.
Kabar kebijaksanaan Putri Tandampalik ini tersebar hingga
sampai kepada raja dari Kerajaan Bone. Raja Bone pun melamar Putri Tandampalik
untuk putranya. Namun, karena aturan Kerajaan Luwu tidak memperbolehkan Putri
Tandampalik menikah dengan pangeran dari kerajaan lain. Lamaran itu pun
ditolak.
Keesokan harinya Putri Tandampalik terkena penyakit kulit.
Sekujur tubuhnya berubah menjadi keputih-putihan, mengeluarkan lendir, dan
berbau anyir. Raja Luwu pun memerintahkan putrinya sementara waktu tinggal di
hutan.
Tiba-tiba ada seekor kerbau bulai yang menjilati tubuh Putri
Tandampalik dengan halus. Kulitnya yang telah dijilati kerbau bulai kembali
seperti sedia kala, bersih dan mulus.
Di hutan tersebut, ia bertemu dengan Pangeran Bone. Melihat
kebaikan hati Putri Tandampalik, Pangeran Bone pun jatuh hati. Mendengar
putrinya kembali sehat, Raja Wulu terlalu bergembira sampai-sampai mengizinkan
putrinya menikah dengan Pangeran Bone.
Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini ialah dibalik
kejadian buruk yang menimpa pasti ada hikmahnya. Cerita rakyat Putri
Tandampalik berasal dari Sulawesi Selatan.
Eksplorasi konten lain dari PRAKATA.ID
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.