Info terupdate
SISI LAIN REALITA
Indeks

About Love In Bamboo Forest

Ilustrasi dalam hutan bambu

About Love In Bamboo Forest

“Aduh!” Aku meringis kesakitan sambil berusaha mengangkat
sepeda yang menimpa tubuhku. Sudah ditimpa sepeda, aku pun harus menikmati
‘manisnya’ lutut kaki kiriku tergores di jalanan depan Togaden ini.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

“Dasar bodoh!” teriak keras seseorang di belakangku.

Aku menatap wajahnya, wajah laki-laki yang mengatakan aku
bodoh. BODOH! Aaargh! Aku tidak terima.

Setelah bisa berdiri dengan sempurna, aku merapikan pita di
rambut gelombangku. Ternyata rok rimpel-rimpel yang kukenakan sedikit sobek
tergores aspal. Pantas saja lututku ikut tergores. Lantas kutatap dalam-dalam
wajah si laki-laki yang dingin itu. “Hei! Kamu bilang apa tadi?!” ujarku
menahan emosi.

“Aku bilang kamu bodoh! Masih kurang jelas? Dasar cewek
ceroboh!” ujarnya sengit sambil membuang muka dan tanpa berdosa dia mengayuh
sepedanya meninggalkanku.

“Hei, kamu! Dasar cowok pengecut!” teriakku keras dengan
emosi yang menggebu. Lantas kukayuh sepedaku mengejarnya. Enak saja dia kabur
setelah sengaja menyenggol sepedaku tanpa meminta maaf terlebih dahulu. Huh!

Ternyata laki-laki menyebalkan tadi mengayuh sepedanya
dengan amat kencang. Ah, sepertinya aku akan ketinggalan jejaknya. Ya, sekarang
tak lagi kulihat punggung laki-laki tersebut. Dan aku menarik napas, kecewa.
Semoga di lain waktu aku bisa bertemu dengannya lagi dan memaksa dia untuk
minta maaf padaku.

Pelan-pelan kutelusuri jalanan wilayah Sanjo siang ini. Orang-orang
terlihat berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Wajah mereka masih
secerah mentari pagi dengan senyum yang menghiasinya. Inilah yang kubanggakan
dari penduduk Kyoto. Semangat dan wajah cerah mereka. Apalagi saat ini Kyoto
sedang haru. Jadinya lengkap dan makin indah saja Kyoto-ku tercinta.

Sambil tetap mengayuh sepeda, kuganti lagu di walkman dan
membenarkan posisi earphone di telingaku. Dan kini terdengarlah suara merdu
Yui, penyanyi favoritku. Lagu yang berjudul ‘Stay with Me’, mampu membuatku
melupakan kejadian yang menyebalkan tadi sekaligus melupakan rasa perih di
lututku.

Setelah lima belas menit perjalanan, aku sudah sampai di
depan rumah.

“Tadaima!” seruku sambil membuka pintu dan langsung berjalan
cepat menaiki tangga menuju kamarku di lantai dua. Aku tergesa-gesa menuju
kamar karena ingin membersihkan luka di sekitar lutut kaki kiriku. Saat luka
lecet itu bertemu obat cair yang kuteteskan, rasanya pedih sekali. Aduh, aku
jadi mengingat kembali wajah laki-laki yang menyenggolku saat mengendarai
sepeda tadi. Awas saja kalau aku bertemu dengan dia lagi!

***

“Ohayou gozaimasu, Miyuki!”

“Ohayou gozaimasu!” jawabku membalas sapaan Yayoi, teman
satu kelasku. Lalu aku tersenyum dan Yayoi pun membalas senyumanku dengan
manisnya.

Selesai aku mengganti sepatu dengan uwabaki6, kukunci
kembali lokerku lalu menoleh ke arah Yayoi yang terlihat kebingungan sambil
mengacak-acak isi tasnya.

“Ada apa, Yayoi?” tanyaku bingung.

“Miyuki, aku kehilangan kunci loker. Aduh!” jawabnya gusar
sembari membongkar tasnya yang berwarna merah muda.

“Mungkin terselip saja,” kataku berkomentar sambil membuka
lembaran buku di dalam tas Yayoi. Kunci loker sekolah kami memang berukuran
kecil. Jadi kupikir mungkin kunci itu terselip di antara lembaran buku. Apalagi
kunci loker Yayoi tidak diberinya gantungan kunci, sehingga sulit untuk
menemukannya di dalam tas yang penuh.

“Setibanya di sekolah tadi aku sempat membuka tas untuk
mengeluarkan komik. Mungkinkah kunci itu terjatuh ya?” Yayoi berucap dengan
nada khawatir.

Aku mengerti kenapa ia jadi khawatir. Lima menit lagi
pelajaran akan dimulai. Jika Yayoi belum menemukan kunci lokernya, itu berarti
ia tidak bisa membuka lokernya dan mengganti sepatunya dengan uwabaki. Kalau
tidak segera mengganti uwabaki, Sensei Terumasa tidak akan mengizinkan muridnya
mengikuti pelajaran.

“Emm… mungkin juga kunci itu terselip di komik kamu, Yayoi.
Sekarang komik itu ada di mana?” Aku bertanya setelah tak kutemukan kunci loker
di antara buku-buku dalam tas Yayoi.

“Miyuki, komik itu sudah dibawa Satoru. Aku meminjamkannya
karena dia mau mengantarku pergi ke sekolah hari ini,” kata Yayoi menjawab
pertanyaanku. Kini Yayoi hanya terduduk di depan lokernya dengan wajah
menyerah.

“Satoru?” ujarku mengulang nama yang disebutkan Yayoi.

“Dia tetangga baruku, Miyuki. Pindahan dari Osaka. Dia
seusia dengan kita tapi sayangnya tidak bersekolah di sini,” kata Yayoi
menjelaskan.

Aku mengangguk lalu tersenyum.

Tiba-tiba lantunan nada Fur Elise terdengar nyaring sebagai
tanda waktu belajar akan dimulai. Beberapa anak terlihat sedang memakai uwabaki
dan setelah itu mereka beranjak menuju kelasnya masing-masing untuk belajar.
Aku masih terpaku di depan Yayoi yang menunduk. Beberapa detik kemudian dia
mengangkat wajahnya.

“Miyuki masuk saja ke kelas. Aku akan mencoba menghubungi
Satoru dan menanyakan apakah kunci itu terselip di komik yang dipinjamnya,”

Aku menggeleng. “Aku mau tunggu Yayoi saja,”

Yayoi tersenyum. Baru saja ia hendak menekan tombol di
handphone-nya, nama Satoru sudah tertera duluan di layar. “Iya, Satoru.
Arigatou gozaimasu! Tunggu ya!” kata Yayoi gembira saat ia berbicara dengan si
penelepon. Setelah menutup handphone-nya, Yayoi menarik lenganku.

“Satoru ada di depan gerbang, Miyuki. Ayo temani aku! Nanti
aku kenalkan kamu dengan dia.”

Aku mangangguk dan berjalan mengikuti Yayoi.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, kulihat sosok yang
sudah tak asing bagiku. Dia tersenyum manis pada Yayoi tanpa melihatku. Ah,
rasanya ingin kutelan bulat-bulat orang itu!

“Ohayou gozaimasu, Satoru! Arigatou gozaimasu. Aku sudah
khawatir tidak bisa ikut pelajaran hari ini kalau kunci lokerku sampai tidak
diketemukan,” ucap Yayoi lembut pada Satoru.

“Ohayou gozaimasu. Do itashimashite, Yayoi!” ujar Satoru
masih dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya. Kuakui Satoru memang manis
dan tampan, namun wajah itu menyebalkan bagiku.

Dan aku cukup terpesona dengan senyuman Satoru hari ini.
Akan tetapi yang aku herankan ia bersikap manis pada Yayoi tapi tidak denganku.
Apa karena kejadian kemarin? Eh, yang seharusnya marah itu ‘kan aku!

“Satoru, kenalkan ini Miyuki! Dia teman satu kelas yang
paling dekat denganku, hehehe!” kata Yayoi mengenalkanku pada Satoru sambil
mengerlingkan mata jenaka padaku.

Aku memasang senyum terpaksa. Tapi, Satoru sama sekali tidak
membalas senyumanku. Ia hanya memandangiku dari ujung rambut sampai ujung
kakiku. Bagus deh! Jadi dia bisa melihat lutut kiriku yang di perban tipis
gara-gara kelakuannya yang tidak bertanggung jawab kemarin di depan Togaden.

“Eh, aku harus kenalan sama cewek ceroboh ini? Kok bisa kau
berteman akrab dengan dia, Yayoi? Lihat itu lututnya akibat dari kecerobohannya
sendiri!” ujar Satoru pada Yayoi sambil membuang wajah padaku. Lalu ia melihat
ke arah pohon sakura yang berbunga indah di depan kolam sekolah.

Aku hanya terdiam. Rasanya ingin kubalas kata-kata ejekan
dari Satoru. Tapi aku masih ingat bahwa Yayoi ada di sampingku dan lagi pula
ini masih di lingkungan sekolah.

“Kalian sudah saling mengenal ya, Satoru? Eh, Miyuki kenapa
tidak cerita padaku kalau sudah mengenal Satoru? Kalian kenal di mana?” tanya
Yayoi keheranan sambil menatap kami berdua bergantian.

“Emmh, aku pergi dulu ya! Yayoi, jangan sampai hilang lagi
kunci lokernya! Sampai ketemu nanti,” pamit Satoru pada Yayoi dengan tiba-tiba.
Lalu ia segera mengayuh sepedanya menjauh dan lama-lama tak terlihat lagi oleh
pandangan mata kami.

Yayoi memandangiku dengan wajah penasaran. Aku pun berlari
meninggalkannya sebab aku yakin ia akan memaksaku bercerita kenapa Satoru bisa
berkata seperti tadi padaku.

“Miyuki… tunggu!” teriak Yayoi padaku. Tapi tak kuhiraukan
dan aku terus berlari sambil tertawa karena berhasil membuat penasaran teman
akrabku.

***

Saat haru seperti ini, matahari akan terbenam cukup lama dan
setelah itu langit mulai berubah warna. Lewat jendela kamar, aku duduk santai
sambil membaca komik. Walau sedang membaca, mataku bisa saja mengedarkan
pandangan ke arah lain termasuk ke atas langit. Kututup komikku dan
meletakkannya kembali ke lemari buku. Kini aku lebih tertarik mengamati
keindahan langit saat senja. Di tambah lagi saat ini bunga-bunga masih
bermekaran dengan indahnya.

“Tok tok tok…” Pintu kamarku diketuk seseorang. Pasti itu
haha.

Aku beranjak dari dudukku dan membuka pintu kamar. Haha
tersenyum padaku dan berkata, “Sayang, tolong belikan tofu karaagedon set di
Togaden ya!”

“Oke, Haha sayang.”

Setelah haha menyerahkan uang sejumlah 800 yen, aku langsung
mengambil pita bermotif polkadot dan menyematkannya di sebelah kanan rambutku.

“Ittekimasu!” kataku pamit seraya menuruni tangga.

“Iterasshai, Miyuki!” pesan haha. Aku menoleh sejenak pada
haha lalu mengangguk tersenyum.

Kukayuh sepeda menembus jalanan. Sengaja kukendarai sepelan
mungkin karena aku sangat suka suasana Kyoto di kala senja menjelang malam
seperti ini. Di sepanjang perjalanan, kulihat pohon-pohon sakura berbunga
dengan lebatnya. Cantik! Aku melebarkan senyumku sambil berdendang kecil

Tak terasa aku sudah sampai di depan Togaden. Restoran ini
memang baru dibuka pukul lima sore. Jadi sekarang lagi ramai-ramainya pelanggan
yang berdatangan.

Selesai membeli tofu karaagedon set dan keluar dari area
Togaden, angin bertiup cukup kencang hingga menerbangkan rambut panjangku yang
bergelombang dan berombak. Pita polkadotku bergeser dari posisinya semula.
Sejenak aku berhenti mengayuh sepeda dan membetulkan letak pita rambutku.

Bruuk!

Untuk ke dua kalinya, aku terjatuh karena ada yang menabrak
dari belakang. Namun aku bersyukur kali ini sepedaku tidak menimpa tubuhku.
Baru saja ingin memarahi orang yang seenaknya menabrakku, mulutku tak bisa
berucap apa-apa.

Dia lagi! Tapi kali ini dia ikut terjatuh dan sepedanya
menimpa tubuhnya sendiri. Syukurin! Ucapku dalam hati. Dia berusaha berdiri,
tapi sepertinya kesulitan menyingkirkan sepeda sport-nya.

Aku jadi tak tega karena melihat wajah Satoru yang meringis
kesakitan sambil memegangi kepalanya. Aku segera menghampiri Satoru dan
membantunya berdiri. “Kepala kamu berdarah, Satoru!” kataku hampir berteriak
saat tak sengaja melirik ke arah kanan kening Satoru.

“Biasa saja kali! Dasar cewek aneh!” cetus Satoru memasang
wajah kesal. Lantas tangannya diusapkan ke keningnya untuk memastikan
kata-kataku.

Satoru mencari sesuatu dari dalam saku celana jinsnya. Tapi
dia menelan ludah karena tidak menemukan apa yang ia cari. Aku mengambil sapu
tangan dari dalam tas kecil di keranjang sepedaku dan menyerahkannya pada
Satoru. Dia hanya menatapku lalu mengacuhkan uluran tanganku yang memberinya
selembar saputangan berwarna biru muda.

Entah keberanian dari mana, dengan cepat kuusapkan
saputangan ke arah kening Satoru untuk membersihkan darahnya yang pelan-pelan
mulai mengalir.

“Hei, siapa yang suruh kau membersihkan lukaku?!” ujar
Satoru dengan suara tertahan namun terkesan kesal dan membentak.

Aku hanya diam saja dan terus membersihkan darah di kening
Satoru.

“Pelan-pelan! Sakit tahu!” bentak Satoru. Meski mulutnya
berkata-kata membentakku, tapi tubuhnya berdiri kaku.

“Ada yang sakit lagi tidak, Satoru? Darah di keningmu sudah
tidak keluar lagi. Sampai di rumah nanti langsung diobati ya,” kataku yang
tiba-tiba berubah lembut. Padahal aku ingin membalas bentakannya padaku. Juga
ingin menyuruhnya meminta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu. Tapi
nyatanya aku tak bisa marah pada laki-laki yang berada di hadapanku kini.

Satoru memandangku dalam-dalam. Matanya yang indah seketika
terlihat lebih teduh dari biasanya. Poninya yang berkeringat terlihat basah dan
diusapkannya ke sebelah kiri. Lalu ia menunduk. Aku merasa dia salah tingkah.
Entah apa penyebabnya.

“Arigatou gozaimasu, Miyuki! Kamu kok jadi baik begini… ada
apa?” Suaranya terdengar parau.

“Aku selalu baik pada semua orang termasuk pada orang yang
menyebalkan seperti kamu,” jawabku jujur dan spontan.

“Gomen nasai! Mungkin aku memang menyebalkan. Aku menyesali
atas kejadian beberapa hari yang lalu. Lutut kaki kirimu sudah sembuh, kan?”

“Eh?”

“Dimaafkan tidak?”

Aku mengangguk lalu tersenyum. Dan Satoru pun tersenyum
padaku. Ah, senyumannya terlihat sangat manis. Hatiku berdesir bahagia dan
seperti ada kupu-kupu yang mengelitik perutku saat memandangi senyuman Satoru.

Tiba-tiba aku baru tersadar jika kami sedang berada di
jalanan depan Togaden dan telah menjadi pusat perhatian beberapa orang.
Sepertinya Satoru pun baru tersadar. Beberapa detik kami saling berpandangan
lalu tertawa bersama.

***

Di sabtu sore, udara terasa cukup gerah. Mungkin karena haru
akan berakhir dua hari lagi dan akan digantikan natsu. Berarti dengan segera
pendingin ruangan harus disiapkan di rumah untuk menghalau udara panas yang
akan datang berkunjung selama kurang lebih tiga bulan ke depan.

Namun aku bukan memikirkan natsu yang akan segera datang,
tapi pikiranku terfokus pada pakaian dan penampilanku sore ini. Pukul lima, aku
dan Satoru janjian untuk bertemu. Satoru mengajakku ke daerah Arashiyama. Tentu
saja dengan senang hati aku terima ajakannya. Siapa yang bisa menolak jika
diajak pergi oleh orang yang telah berhasil menarik hati kita?

Baju terusan yang anggun berwarna hijau dan putih. Kaus kaki
putih dengan sepatu hitam. Rambut dikepang dua di samping, lalu diikat menjadi
satu ke belakang dengan pita berwarna hijau. Begitulah penampilanku dan saat
ini aku sedang berdiri di depan rumah menunggu kedatangan Satoru.

“Hai!” Satoru telah berdiri di hadapanku dan menyapaku.
Matanya memperhatikanku lalu bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Aku membalas senyuman Satoru. “Kenapa, Satoru?” tanyaku
bingung karena Satoru masih terus memandangiku.

“Emmh… kau manis sekali,” puji Satoru yang membuatku jadi
salah tingkah. Aduh, jantungku kenapa berdetak cepat seperti ini sih.

“Eh, Satoru juga manis kok.” kataku memuji Satoru. Ia
mengenakan jins hitam dan kemeja biru langit. Rambutnya yang tebal dan poninya
yang menjuntai menutupi sebagian keningnya, makin terlihat manis dan aku tak
bosan-bosannya mengagumi manusia di hadapanku ini.

“Aku sih sudah manis dari lahir. Kau baru tahu ya?” candanya
sambil mengedipkan mata jenaka padaku.

Aku hanya tertawa.

Sesampainya di daerah Arashiyama, Satoru mengajakku memasuki
The Sagano Bamboo Forest, sebuah taman bambu yang sangat indah dan menarik
karena membentuk seperti tirai yang unik. Taman bambu seluas 16 kilometer
persegi ini tidak hanya indah tapi suara anginnya dapat terdengar melalui
rumpun bambu yang tebal. Sore ini banyak yang datang berkunjung dan menikmati
lingkungan alam yang paling indah di Jepang ini.

Tiba-tiba Satoru memegang tanganku. Perlahan jemarinya
mengisi sela-sela jemariku ketika kami mulai menelusuri area taman bambu yang
sejuk, sesejuk hatiku saat ini. Aku yakin wajahku sudah bersemu merah. Apalagi
jemari Satoru meremas lembut jemariku. Aku tidak memiliki cukup keberanian
untuk menoleh ke arah Satoru di samping kananku. Jadi yang kulakukan hanya diam
dan terus melangkah.

Sesampainya di belokan yang cukup sepi, Satoru menghentikan
langkahnya. Ia menarik napas lalu dengan perlahan mengembuskannya. Kemudian aku
memberanikan diri untuk menatap wajah Satoru. Ia terlihat gugup dan melepaskan
jemarinya dari jemariku.

“Kenapa dilepas, Satoru?”

Satoru tersenyum dan ia berkata dengan wajah yang serius,
“Apa aku boleh terus memegang tanganmu?”

Aku mengangguk dan kini mata Satoru menatap dalam-dalam ke
mataku. Rasanya sinar mata teduh itu menembus sampai ke dalam aliran darah di
tubuhku. Kembali kurasakan jemari Satoru memenuhi sela-sela jemariku.

“Miyuki, kau dan dia begitu mirip. Terutama sikap dan rambut
gelombang kalian. Oleh sebab itu, saat pertama kali aku melihat dirimu, dengan
sengaja kusenggol sepedamu dan tidak menolong kau yang terjatuh akibat ulahku.
Itu karena aku membenci dia yang telah berkhianat,”

Kudengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Satoru dengan
penasaran. Suara angin saat ini tak terdengar. Mungkinkah sang angin pun sedang
mendengarkan kata-kata Satoru?

“Namun aku sadar, kalau kamu bukan dia. Sejak kau terjatuh
saat itu, aku selalu memikirkanmu. Mungkin semua ini memang sudah menjadi takdir
untuk kita, Miyuki. Aishiteru!

Aku memandangi mata Satoru seolah bertanya apakah
kata-katanya itu sungguh-sungguh benar. Satoru mengangguk dan ia membawa
tubuhku ke dalam dekapan hangatnya. Tanpa sadar aku menitikkan bulir bening
dari kedua pelupuk mataku. “Aku juga mencintaimu, Satoru!” bisikku lirih di
dekat telinga Satoru.

Tiba-tiba suara angin kembali terdengar. Namun kali ini
lebih lembut dan merdu. Seolah menembangkan kidung cinta nan indah yang
mengiringi kisah kasih kami berdua.


Eksplorasi konten lain dari PRAKATA.ID

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.