Info terupdate
SISI LAIN REALITA
Indeks

Kisah Nyata – Diculik Wewe Gombel

Wewe Gombel Sosok Hantu Penculik Anak

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Ditinjau dari judulnya, seperti yang kita ketahui, cerita seperti ini sangatlah umum dan seringkali kita mendengarnya. 

Namun, seseorang sudah sudi untuk berbagi kisahnya dengan saya untuk diceritakan ulang dalam bentuk cerpen. Sebut saja namanya Bang Mamad ( Nama samaran ) ini adalah kisahnya waktu masih kecil. 

Sebagai bentuk penghormatan saya kepada beliau, inilah secuil kisah masa lalu dari seorang Bang Mamad. 

Ingat! Sesuatu yang tak kasat mata selalu ada di sekeliling kita, waspadalah! 

Semburat jingga mulai tampak menghiasi langit, tanda akan beralihnya waktu. Biasanya, memasuki pergantian hari seperti ini, anak-anak sudah diperingatkan para orang tua agar pulang dan segera masuk rumah. Tak lupa untuk menutup pintu dan jendela, sebab menurut kepercayaan leluhur, dunia gaib akan memulai aktivitasnya, seperti halnya dunia manusia pada pagi hari. 

Mamad, bocah lelaki berusia 9 tahun. Bergegas pulang dari lapangan bersama kawannya, Irul. ketika mendapati lantunan syi’iran dari musholla kampung yang mulai menggema bertalu-talu. Namun, ia terlihat mengernyit memegang perutnya sembari berjalan dengan langkah yang tertahan. 

“Kamu kenapa, Mad?” tanya Irul yang penasaran melihat kawannya tertinggal beberapa langkah di belakangnya. 

“Nggak tahu ini, Rul. Tiba-tiba mules banget, kamu duluan aja. Aku mau ke sungai,” tuturnya menjelaskan sembari merangkul perutnya yang mungkin bertambah melilit. 

Irul mengangguk, membiarkan sahabatnya berbelok arah menuju sungai di ujung barat kampung. Maklum, waktu itu desa mereka masih terpencil dan belum banyak rumah yang memiliki WC. Keluarga Mamad adalah salah satu dari sekian banyak rumah yang belum memiliki tempat buang hajat tersebut.

Hal ini sudah biasa dan tak aneh. Bahkan, bisa dihitung dengan jari rumah yang sudah mempunyai kakus, hanya beberapa orang kaya dan terpandang saja. Sebab saat itu, cara hidup mereka masih tradisional dan kolot. 

Langit sedikit menghitam ketika Mamad memandang ke atas, ada siratan raut cemas di wajahnya. Mungkin, takut dimarahi sang emak yang cerewetnya minta ampun. Akan tetapi, perutnya sudah tak bisa diajak kompromi. Ia mempercepat langkah agar bisa segera sampai di tujuan. 

Pohon bambu berjajar di pinggir jalan, menandakan ia akan segera sampai. Gesekan suara bambu yang berdecit, membuat Mamad mengusap tengkuknya. Angin pun berembus kencang menggerakkan deretan bambu itu seolah melambai akan menggapai Mamad. Ia terlihat bergidik, berlari kecil menjauhi pepohonan rindang tersebut. 

Mamad membuang napas lega saat sampai di pinggir sungai. Tanpa menunggu, ia memasuki bilik kakus yang terbuat dari potongan bambu yang ditancapkan di dasar sungai. Di sekililingnya ditutup dengan asbes yang tingginya hanya semeter. Ia segera berjongkok dan mengeluarkan isi perut yang sudah mendesak tak tertahan. 

Suasana gelap mulai menyelimuti, lamat-lamat terdengar suara azan magrib bersahutan dari beberapa surau. Mamad mengedarkan pandang ke sekitar, rona wajahnya mulai menunjukkan ketakutan. Hanya sinar rembulan yang menjadi penerangnya saat itu. 

Jika saja diantar sama emaknya, ia tak akan merasa gelisah seperti ini. Biasanya, saat malam hari, sang emak akan mengantarnya dan menyorotkan lampu senter ke seluruh penjuru untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Maklum, desanya masih asri, terkadang banyak binatang liar berkeliaran di pinggir-pinggir sungai. Masih banyak ular, biawak, bahkan buaya yang sering muncul mengagetkan warga. 

Seember air sudah tersedia di depannya untuk cebok. Setelah tuntas, ia mengambil gayung dan melakukan istinja’.

Keadaan semakin mencekam saat suara burung malam dan jangkrik mulai bersahutan, ia berdiri bersiap akan pulang. Namun, ia tercekat ketika melihat sebuah cahaya kuning berpendar dari balik semak mulai mendekat. Mulutnya menganga, tubuhnya bergetar tak karuan. 

Perlahan cahaya itu mulai tampak wujudnya, sebuah lampu teplok yang dipegang seorang wanita paruh baya. Mamad mengembuskan napas, tatkala netranya menemukan sang bude tersenyum menatapnya.


Eksplorasi konten lain dari PRAKATA.ID

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.