![]() |
| Hikayat Prabu Damarwulan dan Adipati Minakjingga |
Hikayat Prabu Damarwulan dan Adipati Minakjingga
Minakjingga merupakan adipati Blambangan, ia memiliki
kekuatan dan kesaktian yang tak tertandingi.
Ia berencana melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Majapahit yang
saat itu memiliki ratu yang cantik jelita bernama Ratu Ayu Kencana Wungu. Sang
Ratu kemudian mengadakan sayembara untuk menangkal ancaman dari Minakjingga. Salah
seorang dari peserta sayembara ini adalah seorang pemuda bernama Damarwulan.
Berhasilkah Damarwulan mengalahkan Minakjingga? Simak kisahnya dalam hikayat
Damarwulan dan Minakjingga berikut ini!
Tersebutlah seorang ratu bernama Dewi Suhita yang bergelar
Ratu Ayu Kencana Wungu. Ia adalah penguasa Kerajaan Majapahit yang ke-6. Pada
era pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah yang kemudian
dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di
Trowulan, Jawa Timur, itu. Salah satu kerajaan kecil yang menjadi taklukan
Majapahit adalah Kerajaan Blambangan yang terletak di Banyuwangi. Kerajaan itu
dipimpin oleh seorang bangsawan dari Klungkung, Bali, bernama Adipati Kebo
Marcuet. Adipati ini terkenal sakti dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya
seperti kerbau.
Keberadaan Adipati Kebo Marcuet ternyata menghadirkan
ancaman bagi Ratu Ayu Kencana Wungu. Meskipun hanya seorang raja taklukan,
namun sepak terjang Adipati Kebo Marcuet yang terus-menerus merongrong wilayah
kekuasaan Majapahit membuat Ratu Ayu Kencana Wungu cemas. Ratu Majapahit itu
pun berupaya menghentikan ulah Adipati Kebo Marcuet dengan mengadakan sebuah
sayembara.
“Barangsiapa yang mampu mengalahkan Adipati Kebo Marcuet,
maka dia akan kuangkat menjadi Adipati Blambangan dan kujadikan sebagai suami,”
demikian maklumat Ratu Ayu Kencana Wungu yang dibacakan di hadapan seluruh
rakyat Majapahit.
Sayembara itu diikuti oleh puluhan orang, namun semua gagal
mengalahkan kesaktian Adipati Kebo Marcuet. Hingga datanglah seorang pemuda
tampan dan gagah bernama Jaka Umbaran yang berasal dari Pasuruan. Ia adalah
cucu Ki Ajah Pamengger yang merupakan guru sekaligus ayah angkat Adipati Kebo
Marcuet. Rupanya, Jaka Umbaran mengetahui kelemahan Adipati Kebo Marcuet. Maka,
dengan senjata pusakanya gada wesi kuning (gada yang terbuat dari kuningan),
dan dibantu oleh seorang pemanjat kelapa yang sakti bernama Dayun, Jaka Umbaran
berhasil mengalahkan Adipati Kebo Marcuet.
Ratu Ayu Kencana Wungu sangat gembira dengan kekalahan
Adipati Kebo Marcuet. Ia pun menobatkan Jaka Umbaran menjadi Adipati Blambangan
dengan gelar Minakjingga. Akan tetapi, Ratu Ayu Kencana Ungu menolak menikah
dengan Jaka Umbaran karena pemuda itu kini tidak lagi tampan. Akibat
pertarungannya dengan Adipati Kebo Marcuet, wajah Jaka Umbaran yang semula
rupawan menjadi rusak, kakinya pincang, dan badannya menjadi bongkok.
Jaka Umbaran alias Minakjingga tetap bersikeras menagih
janji. Ia datang ke Majapahit untuk melamar Ratu Ayu Kencana Wungu meskipun
pada saat itu ia telah memiliki dua selir bernama Dewi Wahita dan Dewi
Puyengan. Lamaran Minakjingga bertepuk sebelah tangan karena sang Ratu tetap
tidak sudi menikah dengannya.
Penolakan itu membuat Minakjingga murka dan memendam dendam
kepada Ratu Ayu Kencana Wungu. Untuk melampiaskan kemarahannya, Minakjingga
merebut beberapa wilayah kekuasaan Majapahit sampai ke Probolinggo. Tidak hanya
itu, Minakjingga pun berniat untuk menyerang Majapahit. Ratu Ayu Kencana Wungu
sangat khawatir ketika mendengar bahwa Minakjingga ingin menyerang kerajaannya.
Maka, ia pun kembali menggelar sayembara.
“Barangsiapa yang berhasil membinasakan Minakjingga akan
kujadikan suamiku!” ucap Ratu Ayu Kencana Wungu di hadapan seluruh rakyat
Majapahit.
Sekali lagi, puluhan pemuda turut serta dalam sayembara
tersebut, namun tidak ada satu pun yang berhasil mengungguli kesaktian
Minakjingga. Hal ini membuat sang Ratu semakin cemas. Saat kekhawatiran sang
Ratu semakin besar, datanglah seorang pemuda tampan bernama Damarwulan. Ia
adalah putra Patih Udara, patih Majapahit yang sedang pergi bertapa. Saat itu
Damarwulan sedang bekerja sebagai perawat kuda milik Patih Logender, seorang
patih Majapahit yang ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayah Damarwulan.
Di hadapan sang Ratu, Damarwulan menyampaikan keinginannya
mengikuti sayembara untuk mengalahkan Minakjingga.
“Ampun, Gusti Ratu! Jika diperkenankan, izinkanlah hamba
mengikuti sayembara,” pinta Damarwulan.
“Tentu saja, Damarwulan. Bawalah kepala Minakjingga ke
hadapanku!” titah sang Ratu.
“Baik, Gusti,” kata pemuda itu seraya berpamitan.
Berangkatlah Damarwulan ke Blambangan untuk menantang
Minakjingga.
“Hai, Minakjingga! Jika berani, lawanlah aku!” seru
Damarwulan setiba di Blambangan.
“Siapa kamu?” tanya Minakjingga, “Berani-beraninya menantang
aku.”
“Ketahuilah, hai pemberontak! Aku Damarwulan yang diutus
oleh Ratu Ayu Kencana Wungu untuk membinasakanmu,” jawab Damarwulan.
“Ha… Ha… Ha…!” Minakjingga tertawa terbahak-bahak, “Sia-sia
saja kamu ke sini, Damarwulan. Kamu tidak akan mampu menghadapi kesaktian
senjata pusakaku, gada wesi kuning!”
Pertarungan sengit antara dua pendekar sakti itu pun
terjadi. Keduanya silih-berganti menyerang. Namun, akhirnya Damarwulan kalah
dalam pertarungan itu hingga pingsan terkena pusaka gada wesi kuning milik
Minakjingga. Damarwulan pun dimasukkan ke dalam penjara.
Rupanya, kedua selir Minakjingga, Dewi Wahita dan Dewi
Puyengan, terpikat melihat ketampanan Damarwulan. Mereka pun secara diam-diam
mengobati luka pemuda itu. Bahkan, mereka juga membuka rahasia kesaktian Minakjingga.
“Kekuatan Minakjingga terletak pada gada wesi kuning. Dia
tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa sejata itu,” kata Dewi Wahita.
“Benar. Jika ingin mengalahkan Minakjingga, Anda harus
merampas pusakanya,” tambah Dewi Puyengan.
“Lalu, bagaimana aku bisa merebut senjata pusaka itu?” tanya
Damarwulan.
“Kami akan membantumu mendapatkan senjata itu,” janji kedua
selir Minakjingga itu.
Pada malam harinya, Dewi Sahita dan Dewi Puyengan mencuri
pusaka gada wesi kuning saat Minakjingga terlelap. Pusaka itu kemudian mereka
berikan kepada Damarwulan. Setelah memiliki senjata itu, Damarwulan pun kembali
menantang Minakjingga untuk bertarung. Alangkah terkejutnya Minakjingga saat
melihat sejata pusakanya ada di tangan Damarwulan.
“Hai, Damarwulan! Bagaimana kamu bisa mendapatkan
senjataku?” tanya Minakjingga heran.
Damarwulan tidak menjawab. Ia segera menyerang Minakjingga
dengan senjata gada wesi kuning yang ada di tangannya. Minakjingga pun tidak
bisa melakukan perlawanan sehingga dapat dengan mudah dikalahkan. Akhirnya,
Adipati Blambangan itu tewas oleh senjata pusakanya sendiri. Damarwulan
memenggal kepada Minakjingga untuk dipersembahkan kepada Ratu Ayu Kencana
Wungu.
Dalam perjalanan menuju Majapahit, Damarwulan dihadang oleh
Layang Seta dan Layang Kumitir. Kedua orang yang bersaudara itu adalah putra
Patih Logender. Rupanya, mereka diam-diam mengikuti Damarwulan ke Blambangan.
Saat melihat Damarwulan berhasil mengalahkan Minakjingga, mereka hendak merebut
kepala Minakjingga agar diakui sebagai pemenang sayembara.
“Hai, Damarwulan! Serahkan kepala Minakjingga itu kepada
kami!” seru Layang Seta.
Damarwulan tentu saja menolak permintaan itu. Pertarungan
pun tak terelakkan. Layang Seta dan Layang Kumitir mengeroyok Damarwulan dan
berhasil merebut kepala Minakjingga. Kepala itu kemudian mereka bawa ke
Majapahit. Pada saat mereka hendak mempersembahkan kepala itu kepada sang Ratu,
tiba-tiba Damarwulan datang dan segera menyampaikan kebenaran.
“Ampun, Gusti! Hamba telah berhasil menjalankan tugas dengan
baik. Namun, di tengah jalan, tiba-tiba Layang Seta dan Layang Kumitir
menghadang hamba dan merebut kepala itu dari tangan hamba,” lapor Damarwulan.
“Ampun, Gusti! Perkataan Damarwulan itu bohong belaka.
Kamilah yang telah memenggal kepala Minakjingga,” sanggah Layang Seta.
Pertengkaran antara kedua pihak pun semakin memanas. Mereka
sama-sama mengaku yang telah memenggal kepala Minakjingga. Ratu Ayu Kencana
Wungu pun menjadi bingung. Ia tidak dapat menenentukan siapa di antara mereka
yang benar. Maka, sebagai jalan keluarnya, penguasa Majapahit itu meminta kedua
belah pihak untuk bertarung.
“Sudahlah, kalian tidak usah bertengkar lagi!” ujar Ratu Ayu
Kencana, “Sekarang aku ingin bukti yang jelas. Bertarunglah kalian, siapa yang
berhasil menjadi pemenangnya pastilah ia yang telah membinasakan Minakjingga.”
Akhirnya, mereka pun bertarung. Kali ini, Damarwulan lebih
berhati-hati menghadapi kedua putra Patih Logender itu. Ia harus membuktikan
kepada sang Ratu bahwa dirinyalah yang benar. Demikian pula Layang Seta dan
Layang Kumitir, mereka tidak ingin kebohongan mereka terbongkar di hadapan sang
Ratu.
Dengan disaksikan oleh sang Ratu dan seluruh rakyat
Majapahit, pertarungan itu pun berlangsung sangat seru. Kedua belah pihak
mengeluarkan seluruh kekuatan masing-masing demi memenangkan pertandingan.
Pertarungan itu akhirnya dimenangkan oleh Damarwulan. Layang Seta dan Layang
Kumitir pun mengakui kesalahan mereka dan dimasukkan ke penjara, sedangkan Damarwulan
pun berhak menikah dengan Ratu Ayu Kencana Wungu.
Demikian cerita Damarwulan dan Minakjingga dari Banyuwangi,
Jawa Timur. Kisah ini terus berkembang menjadi cerita rakyat dengan berbagai
versi. Terlepas dari itu, cerita ini juga dikisahkan dalam bentuk sastra
seperti dalam Serat Kanda, Serat Damarwulan, Serat Blambangan, dan sebagainya.
Cerita tentang Damarwulan dan Minakjingga juga menjadi tema pertunjukan dalam
pementasan teater rakyat Jawa Timur. Bahkan, legenda Damarwulan dan Minakjingga
ini telah diangkat dalam film layar lebar.
Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita ini antara lain,
pertama, sikap suka ingkar janji akan menimbulkan dampak yang buruk, seperti
sikap ingkar janji Ratu Ayu Kencana Wungu mengakibatkan pecahnya peperangan
antara Majapahit dan Blambangan. Kedua, sifat jahat, yakni suka merampas hak
orang lain, terlihat pada perilaku Layang Seta dan Layang Kumitri yang merampas
hak Damarwulan sebagai pemenang sayembara. Akibatnya, kedua orang licik itu pun
masuk penjara.
Eksplorasi konten lain dari PRAKATA.ID
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
